Konsumsi masyarakat Indonesia tegolong cukup tinggi, tak hayal peluang besar untuk bisa terjun didalamnya. Adalah Yati Septianty, seorang wanita asli Bogor yang berada di Kota Tangerang sejak 5 tahun terakhir. Ia melihat peluang dalam bisnis cookies karakter favorit anak-anak.

yati kue

Berbeda dengan cookies pada umumnya, Yati membuat sedikit berbeda. Selain rasa dan tampilannya pun sangat menarik untuk memikat calon pembeli. Seperti dilansir dari Radar Tangerang, usaha yang dilakukan Yati ini awalnya untuk membuatkan anak saja.

“Awalnya saya membuat makanan ini hanya untuk anak saya saja, karena saya prihatin dengan jajanan di luar yang mungkin banyak kurang higienis dan juga sehat. Makanya, saya mulai membuat cookies untuk anak agar dia tidak lagi jajan sembarangan di luar,” papar ibu tiga orang anak itu.

Ternyata ketiga anaknya sangat menyukai makanan yang sudah mulai dibuat olehnya pada tahun 2013 itu. Yati kemudian melihat ada sebuah peluang besar untuk bisnis cookies karena anak-anaknya sangat suka dengan rasa buatannya.

“Selain karena anak, saya juga merasa bahwa semua orang suka sekali dengan ngemil makanan ringan, terutama untuk mengisi waktu senggang atau hidangan pada hari raya. Jadi, saya meminta izin kepada suami untuk memulai usaha pembuatan cookies secara serius,”urai wanita kelahiran tahun 1979 itu.

Selain itu, anak-anaknya pun kembali memberikan inspirasi untuk Yati. Sebab, kegemaran para buah hatinya menonton film animasi membuatnya berpikir untuk menciptakan cookies dengan karakter para tokoh animasi.

“Awalnya coba-coba bikin karakter animasi, siapa tau anak-anak pada suka, ehh ternyata bener aja, mereka pada seneng makan cookies yang ada gambar kartunnya,” ujar wanita berhijab itu.

Dari inspirasi tersebut membuat wanita yang tidak pernah mengeyam pendidikan tentang kuliner itu merasa bersemangat dan yakin usahanya akan berhasil. Maka, tak butuh waktu lama untuk memulai membuat cookies berkarakter animasi itu.

“Saya mulai belajar gambar beberapa tokoh animasi seperti Hulk, Hello Kitty, Mickey dan Mini Mouse serta masih banyak tokoh anaimasi yang lainnya. Awalnya memang sulit, karena harus menggambar di adonan yang basah, tapi lama-kelamaan saya dan pengalaman mengajarkan saya, akhirnya berhasil juga,” urai istri dari Helmi Pramadi itu.

Untuk membuat cookies berkarakter tidaklah rumit. Secara teori sama saja dengan membuat kue yang lainnya. Proses pembuatan kue berkarakter ini membutuhkan waktu selama dua jam dimulai dari bahan hingga siap saji.

“Yang perlu disiapkan untuk membuat cookies yang renyah ,nikmat dan juga berkarakter adalah tepung terigu, gula, mentega dan telur. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasukan dalam satu wadah hingga menjadi adonan kue,” tambahnya.

Selanjutnya cookies tersebut dibentuk sesuai dengan karakter apa yang akan dibuat. Yati menuturkan, bahwa pada tahap tersebut adalah bagian yang paling sulit, karena membutuhkan konsentrasi dan juga ketelitian dalam membuat gambar animasi.

“Anak saya waktu itu pernah gak mau makan cookisnya karena bentuk mata dan hidungnya gak jelas. Saya jadi mikir, anak saya aja gak mau, apalagi yang lain, makanya proses ini adalah bagian tersulit menurutnya,” ujarnya saat mempraktikkan membuat gambar animasi minion.

Pada proses akhir dimasukan kedalam oven untuk dipanggang selama 30 menit. Setelah itu, kue yang sudah panggang ditiriskan untuk selanjutnya dimasukkan kedalam wadah.

“Harus ditiriskan dulu minimal setengah jam, untuk menghindari cookies supaya tidak hancur ketika sudah dimasukkan ke dalam wadah,” ujar wanita yang tinggal di Koang Jaya itu.

Kini usaha yang sudah dirintis sejak tiga tahun lalu sudah berkembang pesat, hingga akhirnya diberi nama Dhee Phee. Nama Dhee Phee itu sendiri berasal dari anak sulung mereka yang bernama Raflly Davynata Pramadi yang disingkat Raflly DP, dan akhirnya mereka melafalkannya menggunakan ejaan huruf bahasa Inggris.

“Ternyata nama anak memang membawa berkah, mungkin sudah rezekinya,” tukasnya Yati Septiany yang dalam menjalankan usaha cookies berkarakter dibantu oleh Helmi Permadi suaminya.

Sang Suami pun Terjun

“Sebelumnya suami saya kerja sebagai salah satu eksekutif pemasaran di salah satu perusahaan mobil asal Jepang. Tapi, karena kasihan melihat saya mengasuh anak-anak dan juga memenuhi pesanan kue para pelanggan akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya,” papar wanita yang juga memiliki usaha kue bolu itu.

cookies

Dengan dibantu oleh suami, omset penjualannya pun semakin tinggi pada setiap bulannya. Menurut Yati, jika pada beberapa bulan sebelumnya hanya mampu membuat 100 wadah cookies pada setiap bulannya, kini meningkat dua kali lipat dari biasanya.

“Alhamdulillah, bahkan pada bulan tertentu kita mampu membuat lebih dari 2000 wadah untuk satu bulan. dan saat ini kami juga berada di bawah binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Tangerang,”ujarnya kepada Satelit News.

Helmi Permadi mengaku sangat tepat meninggalkan pekerjaannya. Sebab, hasil yang didapatkan secara finansial sangat berbeda, sehingga dirinya merasa bersemangat untuk meningkatkan omset penjualannya. Untuk satu wadah cookies dirinya menjual dengan harga dua puluh ribu.

“Kerjanya gak jauh beda sama yang kemaren. Cuma sekarang saya yang jadi bosnya hehe. Tetapi, jumlah penghasilan yang saya dapatkan jauh berbeda sekali dibanding dengan yang lalu ketika masih menjadi pegawai orang lain,” ujar pria 37 tahun itu.

Namun, dalam bisnis cookies berkarakter, Helmi mengaku hanya membantu sang istri untuk mengantar pesanan dan juga memasarkan lewat media sosial. Sedangkan, untuk membuat kue dirinya beserta isteri dibantu oleh dua orang tetangganya.

“Saat ini sih sudah mulai belajar sedikit-sedikit cara membuat cookies, jadi kalo pesanan lagi banyak bisa bantu buat,” tambahnya.

kue cinta

Helmi berpesan kepada para pekerja yang ingin beralih profesi menjadi pengusaha seperti dirinya. Bahwa menjadi pengusaha jauh lebih sulit dibandingkan menjadi seorang karyawan, sebab, tugas yang harus dikerjakan sudah terlihat.

“Pengusaha itu beda, jika tidak memiliki mental yang kuat, maka apapun yang dilakukan akan gagal. Maka dari itu, dibutuhkan mental yang bagus untuk memulai sebuah usaha yang bagus, karena mulai dari perencanaan, produksi dan pemasaran kita semua yang megang dan yang paling penting kita bisa memberdayakan warga yang ada di sekitar rumah agar dapat berkerja,” pungkasnya.

(mg10/panji/gatot/satelitnews)