Dua abad yang lalu, pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dibangun De Groote Postweg atau Great Post Roal yang membentang 1.000 kilometer dari Anyer di Provinsi Banten saat ini sampai Panarukan Situbondo, Jawa Timur. Dan baru-baru ini, pemerintah Indonesia memproyeksikan pembangunan jalan tol Trans-Jawa yang diperkirakan berjarak lebih dari 1.200 km dari Anyer ke Banyuwangi di ujung Jawa Timur.

Jalan Tol Merak – Tangerang

Panjang jalan tol 72,45 kilometer. Meskipun telah beroperasi sejak tahun 1981, jalan tol masih terus mengalami kerugian akibat lalu lintas yang lebih rendah dari target. Setelah akuisisi, Astratel Nusantara telah memiliki konsesi jalan tol.

Pada bulan Januari 2012, banjir 1 meter merendam jalan tol di kilometer 58 dan 59 membuat jalan tidak dapat diakses untuk truk, sehingga harus dilakukan perubahan rute. Hal ini menyebabkan kemacetan lalu lintas hingga 35 kilometer. Sekitar 2.000 pengungsi banjir juga menduduki bahu jalan tol pada saat itu.

Jalan Tol Tangerang – Jakarta

Panjang jalan tol ini adalah 33 kilometer. Segmen ini dioperasikan oleh Jasa Marga. Pada Januari 2011, jumlah kendaraan yang melewati jalan raya mencapai lebih dari 250.000 per hari. Untuk mengatasi memburuknya kemacetan, jalan tol diperluas menjadi 3 jalur di setiap arah.

Jalan Tol Lingkar Luar dan Dalam Jakarta

Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta tidak terhubung langsung dengan Jalan Tol Tangerang – Jakarta di Tomang, tetapi terhubung langsung dengan Jalan Tol Jakarta – Cikampek di Cawang / Halim. Panjang jalan tol adalah 50,6 kilometer. Dioperasikan oleh PT CMNP dan PT Jasa Marga dengan porsi pendapatan dari 55 persen dan 45 persen masing-masing. Pada tahun 2010 PT CMNP mendapat 93 persen dari pendapatan perusahaan dari jalan tol ini.

Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta terhubung dengan Jalan Tol Tangerang-Jakarta di Kebun Jeruk dan dengan Jalan Tol Jakarta-Cikampek di Cikunir. JORR merupakan jalan tol 7-bagian yang mencakup 65 kilometer.

Bagian W1 antara Penjaringan dan Kebun Jeruk dioperasikan oleh PT Nusantara Infrastructure Tbk sedangkan sisanya dioperasikan oleh PT Jasa Marga.

Bagian W2 antara Kebun Jeruk dan Ulujami hampir 8 kilometer panjang dan memiliki 4 bagian. Bagian 1 dari Kebun Jeruk ke Meruya Selatan 1.95 kilometer panjang, bagian 2 dari Meruya Selatan ke Joglo adalah 1,5 kilometer, bagian 3 dari Joglo ke Ciledug 2.35 kilometer dan bagian 4 dari Ciledug ke Ulujami 2.07 kilometer. Konsesi JORR-W2 dipegang oleh PT Marga Lingkar Jaya dengan PT Jasa Marga Tbk dan PT Jakarta Marga Jaya, anak usaha PT Jakarta Propertindo masing-masing memegang 65 dan 35 persen saham. Bagian 1, Bagian 2 dan Bagian 3 dari JORR-W2 dari Kebun Jeruk ke Ciledug dibuka pada tanggal 27 Desember 2013, sementara bagian 4 dibuka pada 21 Juli 2014. Setelah selesai bagian W2, 53,24 kilometer jalan tol antara Rorotan dan Penjaringan sekarang terhubung sepenuhnya. Jalan tol dapat menampung sekitar 100.000 kendaraan per hari dan akan meringankan sekitar 30 persen kemacetan di Jakarta di Jalan Tol Lingkar Dalam.

Bagian antara Koja dan Tanjung Priok terdiri dari 5 sub-bagian.

  • Bagian E1 Rorotan-Cilincing
  • Bagian E2 Cilincing-Jampea
  • Bagian E2A Cilincing-Simpang Jampea
  • Sectiom NS Yos Sudarso-Simpang Jampea
  • Bagian NS Direct Ramp

Jalan Tol Jakarta – Cikampek

Jalan raya dioperasikan oleh Jasa Marga. Bagian barat jalan tol di dekat Jakarta terdiri dari 4 jalur dan 3 jalur untuk arah lain. jalan tol ini dianggap salah satu jalan tol yang paling menguntungkan di Jawa. Jalan Tol Jakarta-Cikampek dikenal sangat padat karena menghubungkan Jakarta dan beberapa kota satelit seperti Bekasi dan Karawang. Hal ini juga menghubungkan ke rute utama ke Bandung dan Pantai Utara Road.

PT Lippo Cikarang Tbk dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk dibangun gerbang tol baru di km 34,700 dengan 1,5 kilometer akses jalan ke kompleks industri mereka. Gerbang tol dibuka secara resmi pada tanggal 5 April 2014.

Jalan Tol Cikampek-Palimanan

Dengan panjang 116 kilometer, Jalan Tol Cikampek-Palimanan merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia. Jalan tol ini berjalan melalui Cikopo, Kalijati, Subang, Cikedung, Kertajati, Sumberjaya dan Palimanan. Total investasi di jalan tol mencapai Rp 12,8 triliun. Investor utama adalah anak perusahaan dari PT Surya Semesta Internusa Tbk, PT Lintas Marga Sedaya. Konstruksi dimulai 8 Desember 2011 setelah komitmen dari 8 bank nasional dan internasional untuk dana proyek diperoleh. Jalan tol secara resmi dibuka pada tanggal 13 Juni 2015. Ini memotong melalui rute reguler melalui Jalur Pantai Utara (Pantura), memungkinkan pengemudi untuk perjalanan dari Cikampek ke Cirebon di 1,5 jam bukan 3,5 jam. Dalam pembuatannya, telah diproyeksikan untuk memudahkan lalu lintas di Pantura sebesar 50 persen.

Satu minggu setelah operasi dimulai, 15 kecelakaan terjadi di jalan raya, menewaskan 3 orang. Pada 8 Juli 2015 atau sekitar tiga minggu setelah jalan tol dibuka, ada 56 kecelakaan dengan korban total 12 orang. Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh kesalahan sopir manusia. Penyebab termasuk mengemudi kurang tidur dan ngebut. Beberapa supir masih cenderung memacu mobil mereka di atas batas kecepatan 100 kilometer per jam, seperti jalan raya masih sangat lengang. Masalah lain termasuk pengguna jalan mengemudi di jalur darurat di kecepatan tinggi.

Jalan Tol Palimanan-Kanci

Panjang jalan tol ini adalah 26,3 kilometer. Jalan tol dioperasikan oleh Jasa Marga.

Jalan Tol Kanci-Pejagan

Jalan tol ini dioperasikan sejak 2011 oleh PT Bakrie Toll Road, anak usaha PT Bakrieland Development Tbk, tetapi saham tersebut dijual kepada MNC Group pada Desember 2012.

Jalan Tol Pejagan-Pemalang

Panjang jalan tol ini 57,5 kilometer dengan investasi sekitar Rp.5.5 triliun. Konsesi oleh PT Bakrie Toll Road yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie, namun sejak Desember 2012, saham telah dijual kepada MNC Group. Dan pada 16 Juli 2014 PT Waskita Toll Road sebagai anak perusahaan dari PT Waskita Karya Tbk membeli seluruh saham dari jalan tol. Pada 23 Juli 2014, groundbreaking telah dilakukan untuk awal pembangunan jalan tol Bagian I dan II. Pada akhir Maret 2015, 35 persen dari konstruksi telah selesai, kedua bagian diperkirakan akan selesai pada tahun 2016.

Jalan tol terdiri dari 4 bagian:

  • Bagian I, Pejagan-Brebes Barat, panjang 14,2 kilometer
  • Bagian II, Brebes Barat-Brebes Timur, panjang 6 kilometer
  • Bagian III, Brebes Timur-Tegal Timur, panjang 10,4 kilometer
  • Bagian IV, Tegal Timur-Pemalang, panjang 26,9 kilometer

Jalan Tol Pemalang-Batang

Pembebasan tanah untuk Tol Pemalang-Batang di awal Februari 2012 hanya 1,63 persen. Sebuah konsesi PT Pemalang Batang Toll Road dengan total panjang 39 kilometer.

Jalan Tol Batang-Semarang

Konsesi oleh PT Bakrie Toll Road yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie, sejak Desember 2012, saham telah dijual kepada MNC Group. Panjang jalan tol adalah 75 kilometer dengan biaya Rp.7.21 triliun. Ini terdiri dari lima bagian dan hingga Februari 2011 pembebasan lahan dari Bagian-1 adalah 62 persen. Konsesi PT Bakrie Toll Road mengalami sengketa karena PT Bakrie Toll Road yang belum membayar angsuran pertama dari enam angsuran ke konsesi pemilik sebelumnya. Untuk sementara proyek ini dihentikan sampai sengketa diselesaikan. Evaluasi ulang telah selesai dan semua 23-proyek lainnya dari 24-proyek akan mulai menandatangani amandemen kontrak mereka, kecuali jalan tol Batang-Semarang. Pada Oktober 2011, karena tidak ada kemajuan yang signifikan, Badan Pengatur Jalan Tol akan memutuskan apakah proyek tersebut merupakan default atau tidak, dan PT Jasa Marga memiliki niat untuk melanjutkan proyek tersebut. Pembebasan tanah untuk Jalan Tol Batang-Semarang di awal Februari 2012 hanya 4,08 persen. Sama dengan Jalan Tol Pemalang-Batang di atas, pemerintah memberikan waktu untuk menyelesaikan pembebasan lahan sampai akhir 2015 atau izin akan dibatalkan. Hanya ini dua segmen jalan tol memiliki masalah dan membuat jalan tol Trans-Jawa dari Jakarta ke Surabaya pada tahun 2017 mungkin tidak semua terhubung.

Kedua Jalan Tol Pemalang-Batang dan Batang-Semarang akhirnya diresmikan pembangunannya oleh Presiden Jokowi pada bulan Juni 2016. Diharapkan bisa selesai dan digunakan pada tahun 2018.

Jalan Tol Semarang-Solo

72,64 kilometer panjangnya, Jalan tol dioperasikan oleh PT Trans Marga Jateng, sebuah perusahaan gabungan antara PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah dan PT Jasa Marga Tbk. dengan komposisi saham 40 dan 60 persen.

  • Jalur E1 dengan panjang 11,3 kilometer secara resmi telah diresmikan untuk operasi komersial pada 12 November 2011.
  • Jalur II Semarang-Solo  dengan panjang 11,95 kilometer secara resmi dibuka pada 4 April 2014.
  • Jalur III Semarang-Solo dengan panjang 17,6 kilometer mulai dibangun pada bulan Juni 2015.

Jalan Tol Solo-Kertosono

Jalan Tol Solo Kertosono merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Jawa, di mana di sebelah barat terhubung ke Jalan Tol Semarang-Solo, dan di timur menghubungkan ke Jalan Tol Kertosono-Mojokerto. Secara administratif, Jalan tol Solo-Kertosono dengan total panjang 176,7 km terdiri dari dua segmen, segmen Solo-Mantingan-Ngawi dan segmen Ngawi-Kertosono. Panjang jalan tol Solo-Mantingan-Ngawi adalah 90,1 kilometer, sedangkan panjang Ngawi-Kertosono adalah 86,6 kilometer. Pada awalnya, tol ini dirancang sebagai dua jalan tol yang terpisah. Namun, selama proses tender, tidak ada investor menunjukkan minat dalam penawaran dua ruas tol tersebut kecuali satu penawar, yaitu PT Thiess Contractors Indonesia.

Pada 28 Juni 2011, amandemen Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) telah ditandatangani di Jakarta. Dengan perjanjian konsesi ini, segmen Solo-Mantingan-Ngawi akan berada di bawah PT Solo-Ngawi Jaya, sedangkan segmen Ngawi-Kertosono akan berada di bawah PT Ngawi-Kertosono Jaya. Kedua perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari PT Thiess Contractors Indonesia. Karena kedua konsesi jalan tol telah diberikan kepada perusahaan yang sama, dua jalan tol ini biasanya disebut sebagai Jalan Tol Solo-Kertosono, atau Soker Toll.

Ketika memulai operasi, Jalan Tol Solo-Kertosono akan menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia. Ini adalah proyek Kerjasama Pemerintah-Swasta pertama di infrastruktur Indonesia. Skema PPP telah digunakan karena, bagi investor untuk sepenuhnya membiayai proyek, internal rate keuangan pengembalian modal rendah, hanya 12 persen, dan waktu pengembalian modal, dilihat dari perspektif bisnis jalan tol, akan sangat panjang karena terhambat oleh kemampuan masyarakat untuk membayar biaya tol. Dalam hal pembiayaan, penyelesaian Soker Jalan Tol membutuhkan biaya proyek hampir Rp 11 triliun, atau lebih tepatnya Rp 10,98 triliun. Biaya ini meliputi biaya pembebasan lahan sebesar Rp 1,85 triliun, biaya konstruksi yang dilakukan oleh pemerintah sebesar Rp 3,55 triliun, dan biaya konstruksi oleh investor sebesar Rp 5,57 triliun.

Soker sendiri akan melewati delapan daerah, yaitu Boyolali, Kabupaten Karanganyar, Solo City, Kabupaten Sragen di Jawa Tengah, dan Ngawi, Madiun, Nganjuk dan Kabupaten Jombang di Provinsi Jawa Timur.

Sebagai bagian dari kesepakatan kemitraan pemerintah dan swasta, pemerintah harus membangun 15 kilometer jalan tol dari Solo ke timur dan jalan tol 25 kilometer dari Kertosono ke barat. Pada bulan September 2014, pembangunan 15 kilometer telah selesai 90 persen.

Untuk tujuan administrasi pembebasan lahan, Soker dibagi menjadi 4 bagian, yaitu Solman I dan Solman II di Provinsi Jawa Tengah, dan Manker I dan Manker II di Provinsi Jawa Timur. Pada bulan Juli 2012, pembebasan lahan dari setiap bagian adalah sekitar 65 persen. Meskipun semua akuisisi lahan belum selesai, pembangunan jalan untuk bagian-1 telah dimulai.

Pembangunan oleh dari pihak negara telah dimulai pada tahun 2009 di daerah Solo menggunakan anggaran nasional oleh Pemerintah. Pada akhir tahun 2011, Jembatan Bengawan Solo sebagai salah satu jembatan utama di Soker Toll. Jalan Layang Karangturi telah selesai, bersama-sama dengan selesainya jalan tol 2,6 km. Kegiatan selama bertahun-tahun adalah sebagai berikut:

  • Tahun 2009: jalan tol 600 meter seharga Rp 15 miliar
  • Tahun 2010: Substruktur dari Jembatan Bengawan Solo sebesar Rp 53 miliar
  • Tahun 2011: Suprastruktur dari Bengawan Solo Bridge dan 1,85km jalan tol sebesar Rp 150 miliar
  • Pada tahun 2012, total Rp 610 miliar telah dialokasikan oleh Pemerintah untuk membangun hampir semua struktur di ujung barat, dan sebagian jalan dengan total panjang 7 km. Selain itu, salah satu proyek diatur di ujung Kertosono, dalam bentuk Jembatan Brantas ditambah jalan tol sepanjang 1,5 km. Paket ini menandai awal dari bagian Jawa Timur setelah konstruksi Soker. PT Thiess Contractors Indonesia telah menetapkan rencana untuk memulai pekerjaan konstruksi di bagian investor nya pada akhir 2012. Namun, tidak memungkinkan rencana tersebut dapat dilaksanakan karena masalah pembebasan lahan.

Ada banyak versi yang berbeda dari data tentang Soker Toll. Namun, menurut Brawijaya, Ph.D, manajer proyek untuk konstruksi dan juga mantan perwira proyek Soker Toll selama tahap desain, panjang sebenarnya Soker lebih panjang dari informasi yang diberikan oleh khalayak.

Jalan Tol Soker memiliki panjang 183,3 km, termasuk akses jalan dan panjang penambahan 1,7 km di ujung timur.

  • Bagian Colomadu-Karanganyar: 1,7 km akses jalan di Ngasem, Colomadu ditambah 20,9 km tol jalan dengan total biaya Rp 1,8 triliun
  • Bagian Saradan – Karanganyar: 120 km dengan total biaya Rp 5,57 triliun
  • Bagian Kertosono – Saradan: 40,1 km dengan total biaya Rp 1,7 triliun

Dengan demikian, total biaya konstruksi harus disetel oleh pemerintah adalah Rp 3,55 triliun, dan total biaya yang harus disediakan oleh investor adalah Rp 5,57 T. Biaya pembebasan lahan telah meningkat dari Rp 1,85 triliun menjadi Rp 2,2 triliun. Dalam hal kelayakan, Soker memiliki Keuangan IRR 17,5%, dan Ekonomi IRR 22%.

Ditinjau dari rangcangan, ada empat fly over di Provinsi Jawa Tengah, dan empat fly over di Provinsi Jawa Timur.

  • Junction Kartosuro, kemudian namanya diubah sebagai Junction Colomadu.
  • Interchange Solo, kemudian namanya diubah sebagai Interchange Sawahan.
  • Interchange Karanganyar, kemudian namanya diubah sebagai Interchange Kemiri.
  • Interchange Sragen
  • Interchange Ngawi
  • Interchange Madiun
  • Interchange Caruban
  • Interchange Nganjuk

Pada bulan Desember tahun 2013, Badan Pengatur Jalan Tol memberi peringatan default PT Solo Ngawi Jaya, karena tidak ada kemajuan yang cukup konsesi pembangunan jalan Solo-Ngawi dengan total nilai Rp 8,900 triliun. PT Solo Ngawi Jaya memiliki satu bulan periode jawaban dihitung sejak peringatan dirilis.

Pada bulan Maret 2015, akuisisi tanah Solo-Ngawi adalah 92 persen, sedangkan Ngawi-Kertosono adalah 88 persen; saat itu diproyeksikan jalan tol akan selesai dalam 3 tahun ke depan.

Jalan Tol Kertosono-Mojokerto

Panjang jalan tol adalah 40,5 kilometer dalam 4 bagian. Konsesi didapatkan PT Marga Harjaya Infrastruktur yang 95 persen milik anak perushaan PT Astra International; Tbk. PT Astratel Nusantara – pemilik PT. Marga Mandalasakti.

  • Bagian 1, Bandar-Jombang 14,7 kilometer;
  • Bagian 2, Jombang-Mojokerto Barat 19,9 kilometer;
  • Bagian 3, Mojokerto Barat-Mojokerto utara 5.0 kilometer;
  • Bagian 4, 0,9 kilometer menghubungkan jalan tol ke jalan tol Ngawi-Kertosono.

Semua dana terpenuhi sendiri oleh perusahaan, tanpa dana perbankan. Setelah bebas selama lebih dari satu bulan operasi percobaan, pada November 20, 2014 Bagian 1 dibuka secara resmi dengan tarif Rp 10.000 untuk kendaraan kecil, namun hingga akhir Desember 2014 hanya sekitar 800 kendaraan menggunakan jalan tol dari prediksi 11.000 kendaraan per hari, namun jalan tol terlalu pendek dan harus menunggu Bagian 2 mulai beroperasi pada bulan September 2015. pada akhir September 2014, akuisisi tanah Bagian 2, 3 dan 4 adalah 83, 87, 80 persen, sedangkan konstruksi bagian 2 adalah 48 persen dan bagian lainnya relatif nihil.

Jalan Tol Mojokerto-Surabaya

Panjang jalan tol adalah 36,27 kilometer dan dikenal juga sebagai jalan tol Sumo dan menghubungkan dengan Jalan Tol Surabaya-Gempol dan Waru-Juanda. Pada bulan Oktober 2014, konstruksi Bagian-4 Krian-Mojokerto, 18,5 kilometer telah selesai 65 persen, sedangkan akuisisi tanah Bagian-3 dan Bagian-2 adalah 59 dan 41 persen, masing-masing.

Surabaya-Gempol

Panjang jalan tol ini adalah 49 kilometer. Telah dioperasikan sepenuhnya oleh Jasa Marga, tapi hanya sampai Porong, sepanjang 2 kilometer dari jalan tol Porong lama telah rusak oleh Lumpur Lapindo sejak 29 Mei 2006. Jadi, ada rencana untuk Tol Porong-Gempol baru dilakukan relokasi jalan dengan panjang 10 kilometer.

Gempol-Pasuruan

Panjang jalan tol ini sekitar 35 kilometer terdiri dari:

  • Bagian I, Gempol-Rembang, 13,6 kilometer
  • Bagian II, Rembang-Pasuruan, 8.10 kilometer
  • Bagian III, Pasuruan-Grati, 12.15 kilometer
  • Pada bulan Februari 2015, Bagian I, Gempol-Pandaan / Rembang, 13.61 kilometer secara fisik telah selesai 100 persen dan telah dijadwalkan akan dibuka pada 21 Mei 2015, namun dibatalkan di menit-menit terakhir. Jadwal terbuka baru pada akhir 2015 juga dibatalkan karena prediksi hanya kurang dari 10.000 kendaraan akan menggunakan Bagian I, ini akan membuat operator akan merugi, jika jalan tol dioperasikan, sehingga akan dibuka bersama-sama dengan Bagian II di pertengahan tahun 2016 . Konsesi adalah milik PT Transmarga Jatim Pasuruan. Beberapa jalan tol pelengkap 4 kilometer Kejapanan-Gempol dan 12 kilometer Gempol-Pandaan telah dibuka Mei 2015.

Pasuruan-Probolinggo

Konsesi oleh PT Bakrie Toll Road yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie, namun sejak Desember 2012, saham telah dijual kepada MNC Group. Panjang jalan tol adalah 45 kilometer.

Probolinggo-Situbondo

Jalan tol ini yang menghubungkan Probolinggo dengan Situbondo

Situbondo-Banyuwangi

Jalan tol ini akan melewati Terminal Ferry Ketapang. Terminal Ferry Ketapang adalah pelabuhan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Melengkapi jalan tol Trans-Jawa

Tol Jagorawi

Jalan tol sepanjang 59-km ini adalah jalan tol pertama di Indonesia. Jalan tol Jagorawi menghubungkan Jakarta, Bogor dan Ciawi. Tujuan pertama membuat jalan tol ini adalah untuk menghubungkan Jakarta dan Bandung melalui Puncak. Tapi sekarang, setelah Jalan Tol Purbaleunyi selesai, Tol Jagorawi digunakan bagi wisatawan untuk pergi ke Puncak. Tetapi kemudian jalan tol ini diperluas untuk mencapai Bandung. Jadi ada 2 cara untuk pergi ke Bandung via Tol Cikampek-Jakarta kemudian Tol Purbaleunyi atau melalui Tol Jagorawi.

Tol Ciawi-Sukabumi

Jalan tol 54 kilometer ini merupakan perluasan dari jalan tol Jagorawi. Proyek perluasan penuh untuk menciptakan rute tol kedua dari Jakarta ke Bandung. Pada 9 Februari 2015 peletakan batu Bagian-1 Ciawi-Cigombong dengan 15,35 kilometer panjang telah dilakukan karena semua akuisisi tanah bagian ini sudah dilakukan. Konsesi awal milik PT Bakrie Toll Road, tetapi telah diakuisisi oleh MNC Group.

Cibitung-Cilincing

Jalan 34 kilometer tol antara Cibitung dan Cilincing terdiri dari:

  • Bagian-1: Cibitung-SS Telaga Asih, 2,65 kilometer
  • Bagian-2: SS Telaga Asih – SS Tembalang, 9,72 kilometer
  • Bagian-3: SS Tembalang-SS Tarumajaya, 14,29 kilometer
  • Bagian-4: SS Tarumajaya-Cilincing, 7.27 kilometer

Dari Cibitung, terhubung dengan Jalan Tol Jakarta-Cikampek dan dari Cilincing, itu akan terhubung dengan Tol Lingkar Dalam Jakarta  melalui tol Koja-Tanjung Priok 45% dan PT Nusacipta Eka Pratama 5%. Konstruksi mulai dibangun pada tahun 2016 dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Jalan Tol Purbaleunyi

Juga dikenal sebagai kombinasi dari Jalan Tol Cipularang dan Jalan Tol Padaleunyi. Pada 2012, Tol Purbaleunyi adalah jalan tol terpanjang di Indonesia. Panjangnya lebih dari 100 kilometer. Berjalan dari utara ke selatan. Dari ujung Utara adalah Jalan Tol Jakarta-Cikampek dan ujung selatan adalah Jalan Tol Cisumdawu. Sejak dibuka, jalan tol ini memotong waktu perjalanan mobil dari Jakarta ke Bandung untuk 2 jam saja.

Jalan Tol Cisumdawu

Jalan Tol Cisumdawu menghubungkan Cileunyi-Sumedang-Dawuan. Ada rencana untuk membangun jalan tol ke Bandara Internasional Majalengka dari Jalan Tol Cisumdawu.

Surabaya-Gresik

Jalan Tol menghubungkan Surabaya dengan Gresik. Gresik adalah pelabuhan penting bagi Jawa Timur. Gresik juga PT Semen Gresik berada. Jalan tol ini dioperasikan sepenuhnya oleh PT Margabumi Matraraya.

Surabaya-Tanjung Perak

Jalan tol ini menghubungkan kota Surabaya dengan pelabuhan di Tanjung Perak. Jalan tol ini dimulai pada Waru, Surabaya.

Waru-Juanda

Jalan tol ini menghubungkan Surabaya dengan bandara. Jalan tol ini dioperasikan sepenuhnya oleh Citra Margatama Surabaya, anak perusahaan dari Citra Marga Nusaphala Persada.

Juanda-Tanjung Perak

Jalan tol ini disebut SERR. Ini akan menghubungkan Bandara Internasional Juanda dengan Pelabuhan Tanjung Perak.

Solo-Yogyakarta

Jalan tol ini menghubungkan kota Surakarta dan Yogyakarta. Jalan tol membentang dari utara ke selatan. ujung utara akan terhubung ke Jalan Tol Semarang-Solo dan ujung selatan akan terhubung dengan Jalan Tol Yogyakarta-Magelang

Kanci-Purwokerto-Cilacap

Jalan tol ini dikenal sebagai Jalan Tengah yang akan menjadi titik mulai dari tol Pantai Selatan. Dari Cilacap yang akan diperluas ke tol Cilacap-Kebumen dan di samping Jalan Tol Kebumen-Purworejo dan Purworejo-Yogyakarta.

(Hrz/ref:Archive AmericaPink)