Untuk membudidayakan kecipir cukup mudah karena kecipir sangat cocok ditanam di Indonesia. Kecipir dapat hidup di dataran rendah hingga dataran tinggi sampai ketinggian 1.600 m dpl. Kecipir bisa hidup di tanah dengan bahan organic rendah, lempung, berpasir, maupun tanah kering. Kecipir tidak memerlukan terlalu banyak air dan daya tahan kecipir terhadap kekeringan juga baik.

Untuk mendapatkan benih kecipir kita bisa memanfaatkan polong kecipir yang sudah tua. Biarkan polong matang hingga kering di batangnya. Polong yang baik untuk benih adalah yang panjangnya 15–20 cm. Bentuk buah normal, tidak terkena hama-penyakit, dan buah kelihatan kompak. Setelah dikeringkan pilihlah biji-biji yang baik. Syaratnya ukuran biji normal, seragam, padat berisi, tidak keriput, tua, dan sehat. Jumlah benih yang dibutuhkan untuk penanaman satu hektar lahan ialah antara 10-15 kg.

Sebelum benih di tanam lakukan pengolahan tanah terlebih dahulu hingga tanah gembur. Beri pupuk kandang pada tanah, kemudian buat lahan menjadi guludan-guludan. Lebar guludan 20 cm dan panjangnya 2-4 m atau sesuai dengan panjang lahan yang hendak ditanami. Antarguludan dibuat parit kecil. Jarak antar guludan bisa dikira-kira. Tak perlu lebar asal bisa dilewati manusia saja. Setiap guludan nantinya hanya dibuat menjadi satu baris tanaman. Lubang tanam dibuat dengan tugal. Jaraknya 25-35 cm dengan posisi di tengah-tengah guludan. Masukkan 2-3 biji ke setiap lubang Waktu yang tepat untuk menanam kecipir ialah di awal musim hujan. Namun, bila terpaksa akhir musim hujan juga dapat dilakukan.

Tanaman kecipir cukup tahan terhadap kering, sehingga penyiraman dilakukan apabila diperlukan saja. Jangan lupa untuk rajin mencabuti gulma terutama di musim hujan. Jagalah selalu kegemburan tanah. Setelah tanaman cukup besar atau setinggi 10 cm, siapkan bambu untuk ajir. Bambu dibelah menjadi beberapa bagian. Panjangnya sekitar 1,5-2 m. Tancapkan bambu di tanah dan ikatkan batang kecipir agar merambat ke bambu. Tidak seperti tanaman sayur lainnya yang dicabut seusai panen karena tak produktif lagi, kecipir bisa diremajakan: Pangkas batang hingga keringgian 30 cm dari atas tanah. Biarkan tunas tumbuh dan rawat dengan baik. Tunas ini akan mampu berproduksi dengan baik kembali. Peremajaan pada pohon kecipir bisa dilakukan sampai 2 kali. Setelah itu sebaiknya tanaman dicabut hingga ke akar-akarnya dan diganti dengan tanaman baru. Pemupukan Saat pengolahan tanah tambahkan pupuk kandang sebanyak 10 ton/ ha. Selain itu tambahkan Urea 100 kg, TSP 150 kg, dan KCl 150 kg per hektar. Pemberian pupuk Urea dan TSP dilakukan 2 kali. Pertama saat tanam dan kedua kali saat tanaman berumur sekitar 3 minggu. KCl diberikan sekaligus pada saat tanam.

Hama yang menyerang kecipir antara lain jenis ulat keket (Chrydeixis chalsites atau Plusia ehaleites). Bagian yang dirusaknya tak hanya daun, melainkan juga bunga dan buah. Bila menyerang daun, yang tersisa hanya tulang daunnya saja. Sedangkan bunga dan buah yang terserang menjadi tidak normal pertumbuhannya. Pengendalian hama ini dengan penyemprotan Sumicidin 50 EC dengan dosis 1-1,5 cc/1 air. Penyakit yang bisa merusak pertanaman kecipir disebabkan oleh cendawan Worunella psophocarpi. Akibatnya buah menjadi tceriput, meringkel, dan ada bagian yang bengkak yang mengandung air. Buah menjadi mudah patah. Bila pucuk tanaman yang terserang, pembentukan bunga akan terganggu. Hasil buah juga akan sangat berkurang. Berantaslah penyakit ini dengan fungisida Dithane M-45 sesuai dosis yang tertera pada kemasannya.

kecipir

Setelah 9-12 minggu dari saat tanam, kecipir bisa mulai dipanen. Dari saat bunga keluar hanya butuh waktu 2 minggu untuk menghasilkan polong muda yang enak dikonsumsi. Panen dapat dilakukan secara rutin seminggu sekali karena bunga kecipir tumbuh terus-menerus. Panen bisa berlangsung terus sampai umur 5 bulan. Selanjutnya tanaman diremajakan. Dalam satu hektar lahan, dapat dihasilkan buah kecipir sebanyak 35 ton lebih.

Tempe Kecipir

Tempe adalah makanan yang sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia. Tempe yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah tempe yang terbuat dari kedelai.

Sayangnya sebagai makanan asli Indonesia bahan baku kedelai yang digunakan harus di import. Ini menyebabkan ketika harga kedelai naik dan kondisi ekonomi yang tidak bagus membuat produsen tempe kualahan bahkan hingga berhenti berproduksi.

Untuk mengatasi hal tersebut produsen tempe bisa mulai melirik ke tempe yang terbuat dari biji kecipir. Meskipun belum sepopuler tempe dari bahan baku kedelai, tempe kecipir memiliki potensi dijadikan alternatif bisnis bagi masyarakat, tidak hanya pengolahannya saja budidaya kecipir juga memiliki potensi yang besar.

Pengolahan biji kecipir menjadi tempe tidak berbeda dengan pengolahan biji kedelai. Hanya saja karena karakteristik biji kecipir yang lebih keras membutuhkan waktu lebih untuk merebusnya terlebih dahulu (kurang lebih 30 menit atau sampai empuk). Setelah itu bisa diberi ragi tempe dengan takaran 1% dari jumlah biji yang akan dijadikan tempe.

Pengolahan biji kecipir dengan difermentasi akan mempermudah gizi dan zat-zat yang bermanfaat untuk diserap oleh tubuh kita. Gizi kecipir lebih tinggi dari daging sapi dan domba. Kalori kecipir dalam tiap 100 gram mengandung 405 kal lebih tinggi dari daging sapi 190 kal dan daging domba 206 kal. Protein kecipir 32,80 gram, daging sapi 27 gram dan daging domba 17,10 gram. Lemak kecipir 17 gram, daging sapi 10 gram dan domba 14,80 gram. Karbohidrat kecipir 36,50 gram, daging sapi 0, dan domba 0 gram.

Digabung Dengan Beras

Hasil penelitian yang dilakukan Suliantari, K. Then dan M. Astawan tentang “Komplementasi Kedelai Dengan Beras Untuk Pembuatan Tempe” yang dimuat Buletin Teknologi Pangan dan Gizi Volume V No. 2 tahun 1994 mengilhami penelitian tentang tempe kecipir-beras dilakukan Dona Astuti dan Wiwit Estuti di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Padang yang berjudul “Kombinasi Kecipir Dan Beras Untuk Meningkatkan Mutu Tempe Kecipir”, pada tahun 2000.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan nyata antarperlakuan tempe kecipir-beras dari segi warna dan aroma. Penambahan beras 30% dari total campuran lebih disukai panelis dari segi warna. Sedangkan dari segi aroma panelis lebih menyukai penambahan sebesar 10% beras dari total campuran. Kemudian dari segi tekstur dan rasa tidak ada perbedaan nyata antarperlakuan. Penambahan beras sebanyak 30% dari total campuran tempe kecipir-beras adalah yang paling baik, di mana nilai asam aminonya mencapai 100% dan tingkat kesukaan panelis lebih baik dari segi warna.

Cara membuat tauco dari biji kecipir

Kecipir selain dimakan sebagai sayur dan dibuat tempe, ternyata juga bisa digunakan sebagai bahan pembuat tauco. Selain mengandung gizi yang baik serta aroma yang khas tauco berbahan kecipir juga dapat digunakan sebagai bahan penyedap seperti tauco pada umumnya.

Bahan yang dibutuhkan untuk membuat tauco adalah:

  • Biji kecipir 2 kg
  • Jamur tempe 100 gram
  • Garam dapur 5 kg
  • Gula merah 500 gram
  • Kecap, ebi (udang kering), poka (bumbu kecap), kayu manis, dan daun salam secukupnya
  • Air 21 liter
  • Alat yang digunakan untuk membuat tauco adalah:
  • Drum atau tong kayu
  • Tampah (nyiru)
  • Ayakan
  • Panci
  • Rak penjemuran
  • Sendok kayu
  • Tungku atau kompor
  • Kain saringan
  • Rak botol
  • corong
  • Botol dan tutupnya yang sudah disterilkan

 

Proses pembuatan tauco dari kecipir:

Bersihkan biji kecipir kemudian rendam selama satu hari (24 jam), lalu rebus sampai lunak (± 1~2 jam)

Kupas kulit biji kecipir, lalu kukus selama 1 jam kemudian tiriskan dan dinginkan

Setelah itu lakukan peragian dengan jamur (bibit) tempe, Aduk hingga rata dan peram pada suhu kamar (250~300 C) selama 3~7 hari sampai seluruhnya ditumbuhi jamur (kapang)

Jemur biji kecipir yang telah berjamur tersebut sampai kering. Hasil penjemuran ini disebut bungkil tauco

Rendam bungkil tauco dalam 20 liter air yang telah diberi garam (5 kg). Diamkan rendaman ini pada suhu kamar (250~300 C) selama 10~20 hari

Masukkan gula merah, ebi atau udang kering, poka, kayu manis, dan daun salam ke dalam rendaman tersebut, lalu masak hingga menjadi bubur

Jemur hingga menjadi pasta dan masukkan ke dalam botol yang sudah disterilkan

Catatan:
Pemberian ragi yang kurang atau lebih, dapat membuat hasil tauco kurang sempurna

Ilmiah

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.) yang di daerah Sumatera dikenal dengan kacang botol atau kacang belimbing, di Sunda disebut jaat, kelongkang dalam bahasa Bali, dan dikenal dengan nama birari di Ternate, adalah tanaman polong yang tumbuh merambat yang berasal dari Indonesia bagian timur.

Kecipir tumbuh merambat dan membentuk semak. Daunnya majemuk dengan anak daun tiga berbentuk segitiga, pertulangan menyirip, letak berselang seling, warna hijau. Bunganya tunggal, bentuk kupu-kupu, tumbuh dari ketiak daun, kelopaknya biasanya berwarna biru pucat. Buah tipe polong, memanjang, berbentuk segi empat dengan sudut beringgit, berwarna hijau waktu muda dan menjadi hitam dan kering bila sudah tua.

Kecipir memiliki kandungan protein yang tidak kalah dengan kedelai. Protein nabati yang terdapat pada kecipir cukup tinggi. Setiap 100 gram kecipir mengandung 405 kal (lebih tinggi dari daging sapi yang hanya 190 kal, dan daging domba 206 kal). Protein kecipir mencapai 32,80 gr, sedangkan sapi hanya 27 gr dan domba 17,10 gram. Lalu unsur lemak pada kecipir 17 gr, daging sapi 10 gr dan domba 14,80 gr. Karbohidrat kecipir 36,50 gram, daging sapi 0, dan domba 0 gram.

Tanaman kecipir sangat mudah untuk dibudidayakan, namun belum diusahakan dengan sungguh-sungguh. Umumnya masyarakat menanamnya sekadar untuk penutup pagar. Hal ini barangkali disebabkan masyarakat kurang tahu akan manfaat dan cara pengolahannya. Padahal hasil produksinya per hektare jika dibandingkan kacang tanah dan kedelai jauh lebih banyak. Produksi biji kecipir mencapai 2.380 kg/ha, sedangkan kacang tanah dan kedelai masing-masing hanya 1.000 kg/ha dan 900 kg/ha (Rismunandar, 1986).

Kecipir cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 1.600 m dpl. Bisa hidup di tanah dengan bahan organik rendah, lempung, berpasir, dan tanah kering. Daya tahan kecipir terhadap kekeringan juga baik. Sehingga budidaya kecipir mudah untuk dilakukan.

Selain itu kecipir memiliki banyak manfaat selain dijadikan untuk sayur, antara lain:

Obat tetes mata dan telinga. Siapkan beberapa daun kecipir, lalu rebus dengan sedikit air bersih sampai mendidih. Saringlah. Setelah dingin, teteskan ke mata dan telinga.

Obat bisul. Tambahkan adas pulosari ke dalam air rebusan kecipir tersebut dengan adas pulosari, lantas haluskan menjadi pasta. Kompreskan pasta ini pada bisul.

Penambah nafsu makan. Masyarakat Jawa akrab dengan jamu godhog (jamu rebus). Nah, biji kecipir dapat dijadikan salah satu bahannya, terutama dimaksudkan untuk menambah nafsu makan.

Tauco kecipir. Ternyata kecipir juga dapat dijadikan bahan baku untuk membuat tauco seperti kacang-kacangan yang lain.

Tempe kecipir. Gizi tempe kecipir tak kalah dengan tempe kedelai.

Kecap kecipir.

Susu dan Yogurt kecipir.