Banyaknya pengguna ponsel saat ini untuk mencari referensi berita, ini dimanfaatkan oleh perusahaan besar untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.

Anda pasti akrab dengan yang namanya Babe, Baca, Kurio, dan UC News. Ya, deretan aplikasi android / ios tersebut memuat berbagai berita dari berbagai sumber.

Saya kurang paham dengan model bisnis seperti apa yang mereka jalankan. Namun apa yang telah kami pantau, perlahan mereka membuat konten mandiri dengan mencari para penulis, dari kalangan apa saja. Tidak harus berlatar belakang sebagai jurnalis.

Kenapa agregator berita mulai memiliki konten sendiri?

Karena udah mulai ketahuan liciknya.

Saya pribadi juga telah merasakan kerugian yang cukup besar. Saat itu, salah satu situs saya tahu-tahu telah muncul di Babe. Tidak hanya satu atau dua saja, melainkan puluhan konten – saya posting di web saya, langsung nongol sendiri di Babe. Tidak ada izin dari mereka sama sekali untuk mencomot seluruh artikel yang saya buat. Oke sih kalau cuman sebagian postingan – kemudian link untuk mengarah ke situs original. Tapi yang terjadi, dari ketikan huruf pertama sampai the end semuanya diangkut. Mana ada sih orang yang udah baca awal sampai akhir repot-repot ngelihat situs ori-nya? keuntungan apa yang saya peroleh?

Saya tidak sendiri, beberapa waktu yang lalu, seorang publisher (blogger) di forum (Ads.id) terang-terangan bahwa dirinya telah dirugikan oleh salah satu agregator berita UC News. Konten yang ia buat secara original, diambil mentah-mentah oleh UC News.

Baca disini : https://ads.id/forums/index.php?threads/lanjutan-ini-klarifikasi-ucweb-ucnews-ucbrowser-ucunion-soal-plagiarism-content-dan-adblock.263456/

Begitu pihak UC News ketahuan, mereka baru menawarkan kerja sama untuk bagi hasil. Namun, tawaran tersebut ditolak, maklum saja, produk dari Alibaba Group dengan UC Browser yang mereka buat selama ini telah merugikan banyak publisher di Indonesia.

Itu hanya dua contoh saja, mungkin diluar sana masih banyak publisher atau blogger yang senasib. Sementara untuk situs portal berita besar seperti Tribunnews, Detik, Sindo, Kompas, dll saya tidak tahu respon mereka. Apakah mereka telah melakukan kesepakatan dulu atau… no clue…

Baca juga: Tantangan Publisher adanya Adblock di UC Browser dan Opera Mini

Setelah UC News mulai banyak menampilkan konten dari penulis dari platform mereka sendiri, sekarang giliran BACA.

Seperti dilansir dari techinasia.com, Baca investasikan dana sebesar 10 juta dollar atau sekitar Rp 130 miliar untuk ‘Nulis’, yakni sebuah platform untuk menulis seperti apa yang telah dilakukan UC News dengan program We-Media nya.  Penulis dijanjikan komisi yang cukup menggiurkan.

“Investasi ini akan kami gunakan untuk memberi pemasukan kepada kontributor konten di Nulis. Semua karya di Nulis juga akan kami publikasikan ke aplikasi Baca,” ujar Bryan Lee, Marketing VP Baca, dalam siaran pers yang diterima Tech in Asia Indonesia.

Akan seperti apa agregator berita mendatang, apakah langkah ini juga akan diikuti oleh Babe dan Kurio, atau bahkan akan lahir lebih banyak lagi agregator lainnya.

Diluar sisi bisnis, bagaimana dengan konsumen atau pembaca. Apakah perusahaan mempedulikan konten mana yang layak untuk dikonsumsi publik atau tidak, mana yang edukatif, mana yang merusak moral?

Jujur, saya pribadi mulai merasa gelisah dengan banyaknya pemberitaan yang semakin tidak jelas – dimana ditulis oleh orang-orang dengan latar belakang yang tidak jelas juga. Bahkan, saat ini bisa dibilang ‘information overload’, banyak berita-berita tidak penting sama sekali – misalnya ‘komentar netizen’ diangkat sebagai subjek kedua gosip.

(mmd)