Jarang sekali ada tempat di Indonesia yang memiliki pedestrian seperti kota-kota besar di dunia. Hampir setiap jalan di kota Jakarta selalu dipenuhi dengan kendaraan. Motor yang seharusnya berada di jalan aspal seringkali naik ke trotoar karena tidak sabar.

trotoar indonesia

Pada dasarnya, pedestrian street merupakan suatu area yang memang ditunjukkan kepada pejalan kaki. Dibuat untuk memberikan fasisitas kegiatan masyarakat. Sementara kendaraan seperti mobil dan motor memiliki tempat khusus, tidak menjadi satu dengan pejalan kaki. Seperti yang kita lihat di Jalan Gunung Sahari Raya Jakarta.

pedestrian jalan gunung sahari raya

Memang di Jakarta sendiri di bagian jalan-jalan protocol, sedikit banyak, sudah dibuat pedestrian yang cukup memadai, walaupun tetap tidak bisa membendung kepadatan warga Jakarta, apalagi di jam kantor. Seperti sepanjang Thamrin-Sudirman, tapi sepertinya pedestrian tersebut hanya sebagai etalasi atau showspace saja. Sebab jika kita coba keluar dari jalur tersebut pedestriannya sudah tidak jelas lagi bentuknya.

Pedestrian

 

 

Pedestrian berasal dari kata ‘pedos’ yang diambil dari bahasa Yunani, berarti ‘kaki’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pedestrian diartikan sebagai pejalan kaki atau orang yang berjalan kaki.

Di seluruh dunia pada umumnya, pedestrian adalah trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk menikmati nuansa bangunan perkotaan dan taman-taman kota. Pedestrian menjadi indikator pokok bagi kemajuan peradaban dan pembangunan kota masa depan. Di Eropa dan Jepang, berjalan kaki adalah hal yang menyenangkan karena menyehatkan. Selain itu, pejalan kaki bisa menikmati indahnya suasana kota.

Belanda adalah salah satu negara yang mengutamakan pembangunan pedestrian bagi pejalan kaki, kemudian mengutamakan orang-orang bekerja menggunakan sepeda pancal, mengutamakan orang-orang naik trem dan terakhir, baru mengutamakan orang yang menggunakan mobil dan sepeda motor.

Kawasan pedestrian di Belanda biasanya dekat dengan lokasi taman kota yang rindang, ruang terbuka hijau, kawasan perkantoran yang sibuk dan sebagainya.

Pembangunan pedestrian berguna untuk mengurangi kemacetan, mengurangi polusi udara dan mempermudah kinerja polisi untuk mengatur lalu lintas. Sayangnya, di Indonesia pembangunan pedestrian dianggap sepele. Padahal, kawasan pedestrian bisa menjadi kawasan pedagang jual beli produk unggulan setempat jika dikelola dengan baik, seperti kawasan Malioboro Yogyakarta, kawasan Monas dan kawasan Gelora Bung Karno.

Kawasan pedestrian bisa menjadi kawasan wisata kuliner, kerajinan, pakaian khas setempat dan bisa diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu, di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

Di negara lain, pemerintah membebaskan area dari semua kendaraan kecuali untuk kendaraan angkutan umum seperti bus, dan kendaraan untuk kepentingan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan mobil polisi. Kendaraan tersebut harus berjalan cukup lambat dan memperhatikan keberadaan dan kecepatan para pejalan kaki. Ruang untuk pedestrian disediakan melalui pelebaran jalur pejalan kaki dan diperlengkapi dengan prasarana yang memberikan kenyamanan.

Di Seoul ada pasar Namdaemun, pasar ini bisa dilalui mobil, tapi tetap pejalan kakilah yang diutamakan. Di area blok sebelahnya ada Chongyechon yang terdapat sungai di tengahnya. Kanan-kirinya adalah pertokoan dengan konsep lama, mobil bisa lewat tetapi ‘kekuatan’ adalah milik pejalan kaki.

Sementara di Yogyakarta, Malioboro belum siap menjadi kawasan pedestrian murni. Kondisi yang paling relevan untuk diterapkan di Malioboro saat ini adalah dijadikan kawasan semi pedestrian dengan human scale atau berskala manusia. Artinya kawasan semi pedestrian Malioboro diberi bangku, orang bisa tetap berjalan dengan nyaman di sana, ada pohon peneduh, disuguhkan performance art dan bangunan yang berada di sekitarnya tidak terlalu tinggi.

Semoga generasi muda memiliki ide segar untuk menciptakan lebih banyak lagi pedestrian di Indonesia.